JAKARTA – Di balik sosoknya yang tegas dan kerap menjadi sorotan publik, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyimpan kisah masa kecil yang penuh perjuangan. Dalam podcast "Bukan Abuleke", Bahlil membuka sisi lain kehidupannya yang jauh dari kemewahan, sebuah pengalaman yang kini membentuk gaya kepemimpinannya.
Bahlil mengenang masa kecilnya di desa tanpa akses listrik hingga usia 12 tahun. Ia harus berjalan kaki sejauh 4 kilometer untuk mencapai sekolah dasar, dan belajar hanya diterangi lampu pelita. Demi membantu ekonomi keluarga, Bahlil kecil bahkan berjualan kue cucur buatan ibunya, menjadi sopir angkot, hingga berjualan ikan di pasar.
"Saya lahir pakai lampu pelita, bukan di rumah sakit. Kalau belajar muka harus dekat (lampu), akhirnya hidung hitam kena asap. Itu membekas dalam hidup saya," kenang Bahlil. Pengalaman hidup susah inilah yang memicunya untuk ngotot memperjuangkan listrik masuk desa agar anak-anak di pelosok memiliki kesempatan yang sama dengan anak kota.
Selain kisah inspiratif, Bahlil juga menanggapi santai berbagai meme dan sorotan netizen yang kerap menimpanya di media sosial. Mulai dari komentar soal fisiknya hingga gerak-gerik tangannya yang sempat viral saat bersama Rosan Roeslani.
Baginya, kritik dan parodi di era demokrasi adalah hal yang lumrah, selama tidak menjurus pada rasisme.
"Kalau orang mengatakan Bahlil hitam, pendek, saya ketawa saja. Memang faktanya begitu, masa saya harus bilang saya putih? Itu no hard feeling buat saya," ujarnya sembari tertawa.
Terkait video viral kode tangan, Bahlil meluruskan bahwa itu hanyalah isyarat jahil kepada sahabatnya karena ruangan yang panas, bukan kode politik berat seperti yang dispekulasikan banyak orang. "Saya jahil saja, maksud saya 'ini panas Bos'," jelasnya.