Optimalisasi Lahan Sukses, Petani NTB Kini Bisa Panen Tiga Kali Setahun dan Nikmati HPP Tertinggi Sejarah


LOMBOK BARAT – Kebijakan pemerintah pusat untuk menggenjot ketahanan pangan melalui program Optimalisasi Lahan (Oplah) di Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai menampakkan hasil signifikan. Petani yang sebelumnya hanya mampu panen satu kali setahun karena keterbatasan air, kini mampu memanen padi hingga tiga kali dalam setahun.

Hal tersebut terungkap dalam acara Panen Raya di Desa Banyu Urip, Lombok Barat, yang dihadiri jajaran Pemerintah Provinsi NTB, TNI, serta Kapolda NTB yang baru, Irjen Pol. Edy M., Jumat (9/1/2026).

Dalam sambutannya, perwakilan Pemerintah Provinsi NTB mengungkapkan bahwa capaian ini adalah tindak lanjut dari pertemuan dengan Presiden Prabowo pada 8 April 2025 lalu. Dalam pertemuan tersebut, Pemprov NTB mengusulkan perbaikan irigasi lama dan pompanisasi ketimbang pembukaan irigasi baru yang memakan waktu lama.

"Alhamdulillah, yang dulu (petani) sekali menanam, sekarang bisa dua kali. Yang dulu dua kali, sekarang bisa tiga kali menanam," ujarnya di hadapan kelompok tani.

Program Oplah di NTB mencakup lahan seluas 10.500 hektare yang difokuskan pada dua strategi utama: revitalisasi saluran irigasi yang mengalami sedimentasi dan pompanisasi untuk mengalirkan air ke lahan-lahan yang posisinya lebih tinggi dari sungai.

HPP Gabah Tembus Rp6.500

Selain peningkatan produktivitas lahan, kabar gembira lain bagi petani adalah kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen yang kini dipatok sebesar Rp6.500 per kilogram. Angka ini disebut sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah republik.

"Belum pernah dalam sejarah HPP ditentukan setinggi itu. Dulu kalau orang berdagang Rp5.000 atau Rp4.500 sudah bersyukur. Sekarang Rp6.500, Alhamdulillah," tambah pejabat tersebut, seraya menyebut kebijakan ini sangat pro-rakyat dan memungkinkan petani meningkatkan taraf hidupnya.

Kapolda Baru Tekankan Stabilitas Keamanan

Acara ini juga menjadi momen perkenalan bagi Kapolda NTB yang baru, Irjen Pol. Edy M., yang baru saja melakukan serah terima jabatan pada 29 Desember lalu. Dalam sambutan perdananya, Irjen Edy menekankan pentingnya stabilitas keamanan (Tata Tentrem Kerta Raharja) sebagai fondasi produktivitas masyarakat.

"Tugas kami di bidang keamanan. Kalau tidak aman, masyarakat tidak tenang bekerja. Masyarakat harus nyaman supaya bisa berkreasi dan inovasi untuk produktif," tegas Irjen Edy.

Mantan perwira tinggi Polri yang mengaku anak seorang Kepala Desa ini juga mengajak masyarakat untuk menjaga fasilitas pertanian yang telah dibangun pemerintah, seperti sumur dan pompa, serta mengedepankan musyawarah (guyub rukun) dalam menyelesaikan masalah di desa, dengan melibatkan Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

Sinergi antara pemerintah daerah, TNI yang mengawal produksi padi, dan Polri yang mengawal komoditas jagung, diharapkan dapat terus menjaga momentum swasembada pangan di NTB.