Diplomasi "Sedia Payung" Prabowo Sukses Besar! Tarif AS Anjlok dari 32% ke 10%, Produk RI Siap Banjiri Amerika

 

WASHINGTON D.C. – Di tengah guncangan hukum yang melanda Amerika Serikat pasca putusan Mahkamah Agung (Supreme Court) terkait tarif global, Indonesia justru muncul sebagai pemenang. Diplomasi tingkat tinggi yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto terbukti berhasil mengamankan posisi ekonomi nasional dari ketidakpastian global. Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, mengungkapkan sebuah fakta mengejutkan di balik meja perundingan. Awalnya, Amerika Serikat berencana mengenakan tarif sebesar 32%, namun berkat lobi intensif, angka tersebut berhasil dipangkas drastis. "Sebelum ada keputusan Mahkamah Agung, kita sudah negosiasi dari 32% menjadi 19%. Nah, setelah putusan kemarin, dari 19% turun lagi menjadi 10%. Secara hitung-hitungan, ini jauh lebih baik bagi kita," ujar Seskap Teddy di Washington D.C. Strategi "Sedia Payung Sebelum Hujan" Meski Mahkamah Agung AS baru saja membatalkan tarif global tertentu, pemerintah Indonesia menegaskan telah menyiapkan berbagai skenario. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa perjanjian bilateral yang diteken Presiden Prabowo dan Presiden Trump memberikan "jalur khusus" bagi Indonesia. “Kita sudah sedia payung sebelum hujan. Saat negara lain masih bingung dengan aturan tarif yang berubah-ubah, Indonesia sudah punya perjanjian yang tetap berproses,” tegas Airlangga. Kopi, CPO, hingga Elektronik Indonesia Tetap 0%? Target utama pemerintah saat ini adalah mengunci tarif 0 persen untuk komoditas unggulan agar tidak ikut tergerus arus dinamika politik di AS. Beberapa sektor yang diperjuangkan tetap nol persen antara lain: Pertanian: Kopi dan Kakao. Manufaktur: Elektronik, Tekstil, dan Alas Kaki (Footwear). Perkebunan: CPO (Minyak Sawit). Airlangga menambahkan bahwa pihak AS (USTR) akan mengeluarkan keputusan kabinet khusus untuk negara mitra yang sudah menandatangani perjanjian seperti Indonesia. Ini artinya, produk Indonesia memiliki daya saing jauh lebih tinggi dibanding negara lain yang tidak memiliki perjanjian serupa. Kejutan di Tengah Kejutan Keputusan Mahkamah Agung AS ini disebut sebagai "kejutan di atas kejutan". Namun, langkah cepat Presiden Prabowo yang melakukan diplomasi langsung sebelum putusan keluar, membuat Indonesia berada satu langkah di depan. “Intinya, Indonesia siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Kita tidak hanya menunggu, kita menjemput bola,” tutup Seskap Teddy. Dengan tarif yang semakin rendah, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat diprediksi akan melonjak tajam, memberikan angin segar bagi pengusaha lokal dan memperkuat rupiah di pasar global. alfonkpictures.com - News and Entertainment