Suasana hangat menyelimuti Istana Merdeka pada Kamis malam (5/3/2026). Sebanyak 165 tokoh lintas organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, alim ulama, kiai, dan habaib berkumpul untuk berbuka puasa sekaligus berdialog intensif selama tiga jam bersama Presiden Prabowo Subianto.
Pertemuan strategis ini menghasilkan kesepahaman kuat antara pemerintah (umara) dan pemimpin umat (ulama) terkait tantangan besar yang dihadapi Indonesia di kancah global maupun domestik.
Strategi 'Berjuang dari Dalam' di BOP
Salah satu poin krusial yang dibahas adalah posisi Indonesia dalam organisasi kerja sama internasional (BOP). Tokoh Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, menjelaskan bahwa Presiden Prabowo memilih strategi stradal from within.
"Selama ini kita berada di luar, sekarang kita mencoba berjuang dari dalam. Beliau menegaskan keterlibatan di BOP adalah untuk mendorong terciptanya dua negara yang berkoeksistensi damai, yaitu Palestina Merdeka dan Israel," ujar Muhadjir.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menambahkan bahwa posisi Indonesia di BOP akan menjadi instrumen deeskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan antara Iran dan Israel. "Presiden Prabowo adalah aktor yang diterima semua pihak, sehingga punya peluang besar menjadi mediator," tegas Gus Yahya.
Hilirisasi Ekonomi dan Pemberantasan Korupsi
Di sektor domestik, para ulama memberikan apresiasi tinggi terhadap keberanian Presiden dalam merombak struktur ekonomi nasional. Ketua Umum MUI, KH Anwar Iskandar, menyebut Prabowo sebagai "Real Presiden" yang berfokus pada kesejahteraan rakyat kecil.
"Beliau ingin memutus rantai kemiskinan agar anak orang miskin tidak tetap miskin melalui program MPB, Koperasi Merah Putih, dan Sekolah Rakyat. Kami juga mendukung keberanian beliau memberantas korupsi agar kekayaan negara kembali ke rakyat," kata KH Anwar Iskandar.
Komitmen Menjaga Kesejukan Bangsa
Ketua MPR RI Ahmad Muzani dan Wakil Ketua Umum MUI KH Marsudi Syuhud senada menyatakan bahwa para ulama memahami langkah Presiden adalah demi menjaga kedaulatan RI di tengah situasi dunia yang tidak menentu akibat perang.
Habib Nabiel Al-Musawa juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpancing hiruk-pikuk politik yang tidak sehat. "Jika ada permasalahan, selesaikan dengan indah, bukan dengan caci maki. Kebersamaan kita adalah kunci menjaga negeri ini," tuturnya.
Kerja Sama Periodik
Sebagai tindak lanjut, pemerintah dan ormas Islam bersepakat untuk membangun skema kerja sama yang lebih konkret. Pertemuan silaturahmi ini direncanakan akan berlangsung secara periodik setiap beberapa pekan atau bulan guna memastikan suara ulama tetap menjadi bagian dari kebijakan pembangunan nasional.
Keterangan Pers Para Tokoh dan Pimpinan Ormas Islam, Jakarta, 5 Maret 2026
alfonkpictures.com - News and Entertainment