Menko AHY di Bidara Cina: Kapasitas Ciliwung Harus Naik 2 Kali Lipat untuk Amankan Jakarta
JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infrawil), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa peningkatan kapasitas tampung aliran Kali Ciliwung adalah harga mati untuk melindungi warga Jakarta dari ancaman banjir. Hal ini disampaikan AHY saat meninjau inlet Sodetan Ciliwung di Bidara Cina, Jakarta Timur, Senin (11/5).
Dalam konferensi persnya, Menko AHY mengungkapkan bahwa kondisi eksisting Kali Ciliwung saat ini hanya mampu mengalirkan air sekitar 200 meter kubik per detik. Angka ini jauh dari ideal untuk menghadapi cuaca ekstrem.
"Kita harus memastikan sungai ini terus dinormalisasi. Lebarnya harus ditambah agar bisa mengakomodasi minimal 570 meter kubik per detik. Jika tidak, air akan tetap meluber dan menjadi bencana bagi masyarakat di sekitar aliran sungai," ujar Menko AHY.
Tekanan Ganda: Banjir Kiriman dan Rob
Lebih lanjut, AHY menjelaskan bahwa wilayah Jabodetabek saat ini menghadapi "tekanan ganda" akibat dampak perubahan iklim. Selain ancaman debit air tinggi dari hulu (Bogor dan Depok), Jakarta juga terancam oleh kenaikan permukaan air laut di hilir.
"Masyarakat kita mendapatkan tekanan dari dua arah. Apa yang terjadi di hulu berdampak ke bawah, sementara di hilir terjadi peningkatan permukaan air laut akibat pemanasan global. Itulah mengapa pembangunan perlindungan pantai di Pantura juga menjadi atensi serius pemerintah," jelasnya.
Solusi Infrastruktur dan Penegakan Hukum
AHY menekankan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah holistik melalui pembangunan bendungan kering seperti Ciawi dan Sukamahi di hulu. Namun, ia mengingatkan bahwa infrastruktur megah sekalipun tidak akan berguna jika tidak dibarengi dengan kepatuhan tata ruang dan kesadaran lingkungan.
Ia menyoroti banyaknya penyalahgunaan lahan yang menyebabkan daerah resapan air berkurang drastis. Selain itu, masalah sampah yang terus berulang memerlukan langkah yang lebih tegas.
"Tidak mungkin infrastruktur ini berkelanjutan jika kesadaran masyarakat belum terbangun. Saya mengajak semua pihak untuk mengedepankan edukasi, tetapi juga harus ada enforcement (penegakan hukum). Jangan biarkan satu bongkah sampah lama-lama menjadi gunung yang menyumbat aliran air," tegas Menko AHY.
Gerakan Bakti Sungai Nusantara
Kegiatan tinjauan lapangan ini merupakan bagian dari gerakan "Bakti Sungai Nusantara" yang melibatkan berbagai elemen, mulai dari Kementerian PU, Pemprov DKI Jakarta, akademisi, hingga komunitas Indonesia Water Warrior.
Menko AHY juga secara khusus mengapresiasi keterlibatan siswa-siswi SMP dan SMA dalam aksi bersih-bersih sungai sejak pagi hari. Menurutnya, literasi lingkungan harus ditanamkan sejak dini demi mewujudkan visi Indonesia yang "ASRI" (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) sebagaimana dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
"Ini adalah kerja bersama. Pemerintah, komunitas, dunia usaha, dan media harus bergandengan tangan untuk memastikan sungai kita kembali menjadi sumber kehidupan, bukan sumber bencana," pungkasnya.
alfonkpictures.com - News and Entertainment