Indonesia Bidik Tuan Rumah FIFA ASEAN, John Herdman: Kami Terobsesi Lolos Piala Dunia 2030


HAMBALANG, JABAR – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen penuh pemerintah untuk memperkuat pembangunan olahraga nasional yang inklusif dan berkelanjutan. Hal tersebut mengemuka setelah Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) yang juga Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, bersama Pelatih Tim Nasional Sepak Bola Indonesia, John Herdman, diterima oleh Presiden Prabowo di kediaman pribadinya di Hambalang, Jawa Barat, pada Jumat, 19 Juni 2026.

Dalam pertemuan strategis ini, fokus utama pembahasan meliputi penguatan olahraga disabilitas, skema anggaran jangka panjang (multi-years), hingga ambisi besar meloloskan Timnas Sepak Bola ke Piala Dunia 2030.

Komitmen Inklusif: Sertifikasi Kepelatihan Atlet Disabilitas

Menpora Erick Thohir melaporkan bahwa perhatian khusus diberikan Presiden Prabowo terhadap puluhan juta penyandang disabilitas di Indonesia. Dari total sekitar 23,9 juta hingga 25,9 juta masyarakat disabilitas, terdapat hampir 11 persen yang gemar berolahraga.

"Bapak Presiden ingin mendorong para orang disabilitas ini benar-benar diperhatikan. Nah salah satunya kita punya program bagaimana sertifikasi kepelatihan untuk mereka," ujar Erick Thohir usai pertemuan.

Melalui program ini, para penyandang disabilitas diharapkan memiliki kesempatan setara untuk menjadi pelatih profesional setelah masa bakti mereka sebagai atlet usai. Guna meninjau langsung kesiapan fasilitas, Presiden Prabowo juga direncanakan akan mengunjungi pemusatan latihan NPC (National Paralympic Committee) di Karanganyar yang selama ini belum diresmikan.

Reformasi Anggaran Pelatnas Multi-Years dan Akademi Usia Dini

Terkait olahraga prestasi, Erick menekankan pentingnya transisi kebijakan anggaran dari tahunan menjadi skema tahun jamak (multi-years). Menurutnya, persiapan menghadapi ajang bergengsi seperti SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade tidak bisa dilakukan secara instan. Kebijakan ini pun langsung mendapat persetujuan Kepala Negara.

"Kebijaksanaan mengenai anggaran, karena yang namanya pelatnas tidak mungkin dianggarkan per tahun, itu harus multi-years, dan Bapak Presiden sepakat," kata Erick. Langkah ini diperkuat dengan instruksi langsung kepada Mensesneg dan Seskab untuk segera menindaklanjutinya.

Sebagai bagian dari strategi fundamental jangka panjang, Erick juga memaparkan rencana pembangunan Akademi Olahraga Nasional. Akademi ini dirancang untuk membina talenta muda potensial sejak usia dini (8–10 tahun) yang terintegrasi dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. Pemerintah juga berkomitmen menjaga kesejahteraan atlet di masa tua dengan terus menggodok regulasi mengenai dana pensiun atlet.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasi yang mulai bermunculan di berbagai sektor (seperti catur, balap motor, dan skateboard), pemerintah menyiapkan kebijakan bonus yang menggiurkan. Untuk ajang setingkat ASEAN Games, bonus disiapkan mencapai Rp1 miliar, dan untuk level Asian Games serta Olimpiade dipastikan akan lebih tinggi.

Sinyal Hijau Tuan Rumah FIFA ASEAN & Obsesi Piala Dunia 2030

Beralih ke sepak bola, Menpora melaporkan respons positif dari FIFA terkait peluang Indonesia menjadi salah satu tuan rumah ajang FIFA ASEAN yang direncanakan bergulir pada September–Oktober tahun ini. Presiden Prabowo menyatakan dukungan penuh dan siap menerbitkan surat rekomendasi resmi negara demi pemenuhan syarat FIFA.

Sementara itu, Pelatih Timnas Indonesia John Herdman mengungkapkan atmosfer positif setelah bertemu langsung dengan Kepala Negara. Herdman berkelakar bahwa ia sempat merasa malu untuk menghadap sebelum berhasil menyumbang kemenangan di laga-laga awal bersama skuad Garuda.

Herdman menegaskan bahwa agenda terdekat seperti Piala AFF dan FIFA ASEAN akan menjadi batu loncatan penting. "FIFA ASEAN adalah turnamen yang harus kita menangkan demi memastikan kita berada di posisi teratas di Asia Tenggara dan membawa pulang trofi," cetus juru taktik asal Inggris tersebut.

Mengenai target jangka panjang, Herdman menyebut Presiden Prabowo memiliki hasrat dan obsesi yang sama dengan 280 juta rakyat Indonesia untuk melihat Timnas melenggang ke putaran final Piala Dunia 2030, yang babak kualifikasinya akan dimulai September tahun depan.

"Setiap hari kami bangun, kami sangat terobsesi dengan kualifikasi tersebut karena hal itu akan mengubah segalanya di negara ini untuk selamanya," tutur Herdman optimis.

Naturalisasi Tetap Berjalan Selektif

Menutup keterangan persnya, Erick Thohir meluruskan dinamika seputar kelanjutan program naturalisasi pemain sepak bola. Ia memastikan bahwa PSSI tetap memprioritaskan kompetisi akar rumput (grassroot) untuk memunculkan talenta lokal.

Namun, proses naturalisasi akan tetap dibuka secara selektif, khusus bagi para pemain yang terbukti memiliki garis keturunan atau darah Indonesia. Saat ini, proses administrasi beberapa pemain sedang menunggu sidang paripurna DPR RI sebelum diajukan ke Presiden untuk pengambilan sumpah.